Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Ilmu adalah asas bagi kehidupan. Dengan ilmu manusia mampu memberikan sumbangsi terhadap peradaban dunia. Bagi umat muslim, ilmu sanga...



Ilmu adalah asas bagi kehidupan. Dengan ilmu manusia mampu memberikan sumbangsi terhadap peradaban dunia. Bagi umat muslim, ilmu sangat wajib dicari sebagaimana    Ibnu Majah pernah meriwayatkan, Rasulullah SAW pernah berkata “Tolabul ilmu faridotun ala kulli muslimin”. Selain itu, aktivitas mencari ilmu dapat memudahkah seorang muslim memasuki syurganya Allah SWT

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim, no. 2699).

Pada umumnya kita memahami bahwa ilmu bersifat netral. Ilmu diyakini sebagai hal yang pasti baik. Padahal belum tentu. Perbedaan latar belakang pembawanya mempengaruhi definisi ilmu yang berbeda. Tokoh seperti Karl Mannheim, Max Scheler, Gunnar Myrdal, Peter mulai memahami bahwa ilmu, terutama ilmu sains sosial banyak bergantung kepada suasana nilai pribadi penulis juga  dalam hal sosio sejarahnya.[1]

Ilmu sangatlah bergantung kepada siapa yang menggunakannya. Analaogi sedehananya ilmu layaknya sebuah alat. Alat dapat digunakan sesuai kemauan si pemiliknya. Contohnya pisau. Pisau adalah alat untuk memotong sesuatu, seringnya digunakan untuk memotong bahan masakan. Dalam hal ini pisau bermanfaat untuk manusia.  Sebaliknya, jika si pemilik pisau itu menggunakannya untuk membunuh orang maka pisau yang awalnya bermanfaat menjadi alat untuk menyakiti orang lain. Status pisau tidak bisa kita anggap netral.[2]

Menurut Rosenthal ada sekitar 107 pendapat para pemikir islam terkait definsi ilmu. Ini menandakan definisi ilmu banyak dan variatif.
Kata Osman Bakar,“ilmu adalah kalimat Allah SWT yang pengertiannya cukup luas sehingga kita menyebut Allah SWT sajalah yang Maha Mengetahui”.[3] Bagi Al-Ghazali ilmu adalah sesuatu yang membawa ketenangan dan kedamaian kepada diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan Ibnu Hazm melihat ilmu itu sebagai sesuatu yang meyakinkan sesuai dengan realitasnya. [4]

Syed Naquib Al Attas merangkum berbagai macam arti ilmu di dalam bukunya yang berjudul Risalah Untuk Kaum Muslimin. Iaitu:

1.      Ilmu adalah sesuatu yang meyakini dan memahamkan dengan nyata.  Ilmu adalah tilikan akal –iaitu tilikan yang memandang hakikat sesuatu seperti adanya.

2.      Mengetahui sesuatu adalah mengenali dan mengetahui sebab-sebab wujud dan keadaa sesuatu yang dikenali dan diketahui.

3.      Ilmu adalah pengenalan perolehan hati mengenai sesuatu. Yang menggambarkan hakikatnya dengan secara tepat dan jernih, baikpun hakikat itu hakikat zahir di alam sahadah mahupun yang batin di alam ghaib.

4.      Ilmu adalah penetapan diri atau hati tentang kebenaran sesuatu sewaktu shak dan ragu-ragu timbul mengenalnya.

5.      Ilmu itu satu gerak daya ke arah penjelasan, penetapan dan penentuan.

6.      Ilmu itu pengikraran terhadap kebenaran.

7.      Ilmu itu I’tiqad mengenai hakikat sesuatu seperti adanya.

8.      Ilmu itu mengakibatkan ketentraman diri.

9.      Peringatan, gambaran akal, renungan, pandangan batin.

10.  Ilmu adalah sesuatu sifat yang menghapuskan kejahilan, shak, dan dugaaan.

11.  Ilmu itu cahaya yang diletakan oleh Allah SWT dalam hati.

12.  Ilmu itu gambaran rupa-batin. Fahaam atau mana dalam fikiran dan gerak daya yang membentuk perkara-perkara tersebut itu.

13.  Ilmu perkara dalaman.

14.  Ilmu adalah pengetahuan dan pengenalan yang tetap  yang menafikan kemungkinan pengetahuan dan pengenalan sebaliknya.

15.  Ilmu adalah rahasia yang diselipkan ke dalam diri dan mentap di situ dan ilmu itulah yang menjadi hasrat dan kehendak diri

16.  Ilmu adalah suatu proses atau gerak daya memperoleh pengetahuan dan merujuk kepada sesuatu (insan) yang hidup, yang memperoleh diri yang mengetahui itu mengetahui yang diketahui.

Secara garis besar, definisi-definisi ilmu menurut para ulama diatas dapat dipahami  sebagai sesuatu yang benar, yang menghantarkan manusia kepada pengenalan terhadap penciptanya, sehingga membawa ketenangan kepada jiwanya maupun orang lain.




[1] Wan Daud, Wan Mohd Nor. 2019. Budaya Ilmu Makna Dan Manifestasi dala  Sejarah dan Masa Kini. Kuala Lumpur: CASIS.
[2] Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. 2019. Risalah Untuk Kamu Muslimin. Kuala Lumpur: Ta’dib International.
[3] Othman, Mohd. Yusof Hj. 1998. Isu-Isu Dalam Ilmu Dan Pemikiran. Kuala Kuala Lumpur: Percetakan Menang Sdn. Bhd.
[4] Yusliadi. 2018. Hakikat Ilmu Dalam Perspektif Al-Ghazali. STAIN Pamekasan.

I’jaaz berasal dari kata (أعجز) yang artinya melemahkan. Keajaiban yang diberikan kepada nabi disebut mukjizat karena manusia tidak...




I’jaaz berasal dari kata (أعجز) yang artinya melemahkan. Keajaiban yang diberikan kepada nabi disebut mukjizat karena manusia tidak mampu menirukan keajaiban tersebut[1].  Kita dapat fahami melalui kisah-kisah mukjizat para Nabi terdahulu. Nabi Musa misalnya. Saat para penyihir Firaun diperintahkan untuk melawan Nabi Musa AS.  Allah perintahkan Musa untuk menggunakan tongkat yang ia gengam, Terosontak dan terkejutlah dengan apa yang diperlihatkan Nabi Musa. Sebuah tongkat biasa tetiba menjadi ular. Tidak hanya itu, sesaat setelah tangannya dijepitkan ke dalam ketiaknya keluarlah cahaya sampai-sampai para penyihir andalan Firaun itu takjub dan yakin bahwa itu bukanlah  sihir.[2]

Kala kenabian Isa AS dipertanyakan oleh Herodes bahkan menantang beliau untuk menunjukan mukjizatnya dihadapaan rakyat-rakyatnya. Nabi Isa tak gentar, ia membuat sebuah patung berbentuk burung dari tanah liat ditiupnya patung itu –atas izin Allah patung tersebut berubah menjadi seekor burung sungguhan.[3]

Alquran adalah mukjiat Nabi Muhammad SA. Beliau dilahirkan dari Rasulullah di Arab.  Tinggal di lingkungan dan menjadi bagian dari masyarakat Arab. Saat itu, bangsa arab amat menyukai syair-syair. Perkembangan syair bangsa arab sangatlah tinggi. Bahkan, syair yang mampu menunjukan kedalaman sastranya di dalam suatu perlombaan akan digantungkan di dinding Ka’bah, dihormati, dimuliakan, dan dipersepsikan sebagai tahta tertinggi keindahan bahasa.

Ketika Al-quran hadir, didakwahkan oleh Rasulullah SAW. Takjub sesaeontero penduduk Arab dengan keindahan isinya. Al-Quran bukanlah sajak, puisi, atau prosa. Al-Quran adalah keindahan yang tidak pernah sekalipun dirasakan oleh para penyair ulung Arab. Bahkan sekeleber Abu jahal, Abu Sufyan, Walid bin Al-Mughiroh, dan para musyirikin lainnya tarcengang oleh keindahan kandungan Al-Quran. 

Allah menantang siapapun dan dari kalangan manapun untuk membuat sesuatu yang melebihi Al-Quran. Satu atau setengahnya pun tak masalah. Menariknya, dari awal diturunkannya Al-Quran bahkan sampai masa kemajuan peradaban teknologi dan sains tak ada satupun yang mampu meniru satu ayat atau bahkan setengahnya. Kelemahan untuk meniru ayat Al-Quran disebabkan karena mukjizat Al-Quran sendirilah yang mengelukan tangan dan lisan manusia untuk menirunya.[4]

Ketika Walid bin Al-Mughirah, seorang sastrawan termashyur di zaman Rasulullah, ditanya oleh Abu jahal kesan Walid terkait ayat-ayat suci Al-Quranul Kariim, ia pun menjawab:

“Demi Allah! Aku tidak pernah melihat dan mendengar diantara kita yang lebih pintar dari ku dalam menilai syair-syair, yang mengenl rajaznya dan khadhidnya. Demi Allah! Apa yang diucapkan oleh Muhammad itu tidak biasa disamakan dengan syair manapun. Demi Allah! Kata-katanya begitu indah diucapkan, manis didengar, puncaknya menimbulkan buah, dasarnya memancarkan kesuburan. Perkataan ini akan selalu diatas dan tidak akan pernah terlampaui, dan yang ada dibawahnya pasti otomatis akan hancur.” Padahal Al Walid saat itu seorang yang kufur. Namun, keistimewaan Al-Quran tidak dapat dibohongi.[5]
Banyak versi dalam kitab-kitab Ulumul Quran terkait pembagian jenis Ijaz Al-Quran. Namun setidaknya ada tiga hal yang mencakup berbagai perbedaan jenis I’jaz, diantaranya:

Pertama, Al-Quranul Kariim memiliki keindahan dan ketelitian bahasa. Mungkin, bagi orang yang tidak paham bahasa arab atau belum pernah mempelajari sastranya merasa biasa saja saat mendengar dan membaca ayat-ayatnya. Sulit menangkap kedalaman makna yang terkandung di dalamnya. Bahkan, bagi yang telah mendalami bahasa Arab pun belum tentu mampu memahami Al-Quran dengan baik.[6] Karena keindahan Al-Quran tidak pernah didengar dan dilihat sebelumnya oleh bangsa Arab yang sangat menyukai syair, sampai-sampai Abu jahal dan kawan-kawannya mengatakan Al-Quran adalah sihir.

Kedua, terdapat informasi gaib didalamnya. Quraish Syihab, di dalam bukunya Kaidah Tafsir,  membagi berita gaib ini menjadi dua. Gaib berupa informasi masa depan yang belum terjadi dan akan terjadi karena Al-Quran telah memprediksinya. Seperti kemenangan kaum muslimin di perang Badar yang didokumentaskan dalam surat Al-Anfal.

Sedangkan yang kedua ialah gaib berupa informasi masa lampau dan diketahui informasinya saat masa mendatang. Kisah tenggelamnya Fira’un saat mengejar Nabi Musa AS dan pengikutnya termaktub dalam surat Yunus ayat 90-92.  Baru diketahui validitas kisahnya setelah purbakalawan berkebangsaan Perancis, Jean Loret (1859-1946) menemukan mayat firaun di  Wadi al-Mulk di daerah daerah Thaba, Luxor, dekat dengan sungai Nil di Mesir pada Tahun1896 M.

Ketiga, terkandung di dalamnya informasi ilmiah. Ibnu Katsir menjelaskan perihal ini di dalam bukunya yang berjudul Tafsir Al-Quran Al-Azim bahwa Allah akan menunjukan bukti-bukti di alam ini untuk menegaskan bahwa Al-Quran itu benar. Hal ini selaras dengaan firman Allah SWT dalam surat Al-Fussilat ayat 53:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) kami di segenap penjuru dan ada diri mereka sendiri jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”

Dengan kemajuan teknologi saat ini kevaliditasan informasi sains dalam Al-Quran semakin nampak. Misalnya saja teori Big Bangnya Albert Einstein. Awalnya alam semesta ini berupa massa yang besar (Primary Nebula) lalu terjadilah ledakan yang sangat dahsyat (Secondary Separational Cosmic Explosion). Materi-materi yang meledak mendingin sehingga terbentuklan bintang, bulan, matahari, planet, dan sebagainya.[7]

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu kemudian kami pisahkan antara keduanya; dan kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air; maka mengapa mereka tidak beriman?” (Al-Anbiya: 30)

Para ilmuan juga telah meneliti hubungan ukuran bumi dengan lapisan atmosfer. Dalam temuan mereka jika ukuran bumi sedikit saja mengecil implikasinya sangatlah besar, bumi akan kehilangan lapisan atmosfer. Daya grafitas bumi akan semakin mengecil sehingga bumi tidak dapat menahan atmosfer. Gas pembentuk atmosfer akan lepas ke angkasa. Begitupun sebaliknya, jika ukuran bumi membesar, gravitasi bumi mampu menahan lapisan atmosfer dan menarik gas-gas yang berada di luar angkasa masuk ke bumi. Jika hal itu terjadi pengaruhnya sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.[8]

“Dan tidaklah Kami bermain-main menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.  Tidaklah kami ciptakan keduanya melainkan dengan haq(benar), tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”







[1] Qodhi, Abu Ammar Yasir. 1999. The Science of Quran. Brimingham : Al-Hidaayah Publishing.
[2] 2015. Kisah Nabi Musa Melawan Sihir. Dunia Nabi. Diakses pada 14 November 2019 melalui http://dunia-nabi.blogspot.com/2015/04/kisah-nabi-musa-melawan-ahli-sihir.html
[3] Megawati, Adriana. 2016. Kisah Nabi Isa, Bisa Hidupkan Burung Dari Tanah Liat dan dikhianati murid. Merdeka.com. Diakses pada 14 November 2019 melalui https://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-nabi-isa-bisa-hidupkan-burung-dari-tanah-dan-dikhianati-murid.html
[4] Hamka, Buya. Tafsir Al-Azhar. Halaman 18.
[5] Hamka, Buya.2017. Tafsir Al-Azhar Juzuk I. Selangor, Malaysia: Publishing House.
[6] Syihab, M. Quraish.2013. Kaidah Tafsir. Tanggerang: Lentera Hati. 
[7] Zainal Abidin, Danial.  Al-Quran dan Sains. Pulau Pinang, Malaysia.
[8] A Jasmi, K. A. & Ahmad Zawawi, N. (2013). Al-Quran dan Geografi in Sains Asas, fizik, kimia dan geografi dari perspektif al-Quran. Skudai, Johor Bahru: Universiti Teknologi Malaysia Press

Penelitian telah menemukan penemuan baru. Bakteri lebih suka bersatu bekerja sama untuk melawan ancaman dari luar, seperti antibioti...





Penelitian telah menemukan penemuan baru. Bakteri lebih suka bersatu bekerja sama untuk melawan ancaman dari luar, seperti antibiotik, dari pada bertarung satu sama lain. Penemuan ini adalah langkah besar untuk memahami interaksi bakteri yang kompleks, pengembangaan model perawatan penyakit manusia terbaru, dan juga teknologi penghijauan.

Bertahun-tahun lamanya para saintis mencoba meneliti bagaimana tingkah laku bakteri ketika bersama dalam area yang terbatas. Setelah dilakukan penelitian dalam durasi waktu yang cukup lama akhirnya terungkap bahwa ternyata bakteri bekerja sama untuk bertahan hidup. Menariknya hal ini sangat kontradiktif dengan teori evolosi Darwin, dimana teorinya memusatkan pada  kompetisi sebagai jalan untuk bertahan hidup.

“In the classic Darwinian mindset, competition is the name of the game. The best suited survive and outcompete those less well suited. However, when it comes to microorganisms like bacteria, our finding reveal the most cooperative ones survive,” terang Soren Johannes Sorense, profesor mikrobiologi dari University of Copenhagen.

Saintis mengisolasi bakteri ke dalam jagung kecil dimana mereka dipaksa untuk bertarung satu sama lain demi memperebutkan ruang. Dengan cara itu para peneliti  mudah untuk menyelidiki sejauh mana bakter bekerja sama atau bertahan hidup. Mereka memilih strain bakteri berdasarkan kemampuan bakteri untuk tumbuh bersama. Para peneliti mengukur berdasarkan kadar biofilm yang mereka keluarkan. Biofilm adalah lapisan lendir yang melindungi bakteri dari ancaman eksternal seperti antibiotik dan predator. Ketika bakteri sehat, mereka memproduksi lebih banyak biofilm dan tumbuh semakin kuat dan juga semakin elastis.

Para peneliti melakukan penelitian tersebut berulang-ulang, dan konkulisnya tetap sama. Bakteri yang menghasilkan lebih banyak biofilm (bakteri yang kuat) membagi ruang untuk bakteri yang lemah sehingga mereka mampu berkembang juga. Para peneliti pun melihat bahwa bakteri membagi tugas-tugas dengan mematikan mekanisme yang tidak perlu dan membaginya dengan bakteri yang berada dekat dengannya.

“Our new study demonstrates that bacteria organize themselves in a structured way, distribute work, and even help each other. This means thaat we can find out which bacteria cooperate, and possibly, which ones depend and each another, by looking at who sits next to who,” jelas Sorensen.

Peneliti juga mencoba mencari tahu bagaimana sifat-sifat bekteri saat mereka sendiri mau pun ketika mereka bersama-sama. Manusia sering berdiskusi tentang strategi kerja, dan bagaimana seseorang menginspirasi yang lainnya. Bakteri telah lebih dulu melakukannya ketika mereka bertahan hidup dalam komunitas yang kecil.

Sorensen juga mejelaskan bahwa bakteri memberikan kita pemahaman pentingnya sinergi dalam berkelompok. Bakteri menginduksi atribut tetangga mereka yang seharusnya tidak aktif. Dengan cara tersebut, kelompok bakter dapat memunculkan sifat-sifat yang mustahil terlihat saat mereka sendirian. Namun, saat bersama-sama dengan bakteri lainnya sifat tersebut bisa tiba-tiba muncul.

Arikel ini adalah terjemahan dari salah satu tulisan di laman website Futurity “Sorry, Darwin, but bacteria don’t compete to survive.”



Keadilan menurut Barat menyangkut persoalan dua orang atau lebih, inheren kepada negara dan masyarakat. Permasalahan yang terjadi pada ...



Keadilan menurut Barat menyangkut persoalan dua orang atau lebih, inheren kepada negara dan masyarakat. Permasalahan yang terjadi pada setiap individu selalu dikaitkan pada tanggung jawabnya kepada masyarakat dan negara. Gambaran keadilan yang dipahami oleh Barat tergambar dari pendapat Aristoteles, jika seseorang melakukan bunuh diri berarti ia telah  zalim bukan kepada dirinya melainkan zalim kepada masyarakat dan negara. Karena ia lari dari tanggung jawabnya  untuk berkhidmat kepada masyarakat dan negara.

Sedangkan islam melihat sebuah keadilan bermula dari diri sendiri iaitu pribadi insan sebagai individu. Bagi seseorang yang melakukan kezaliman artinya ia merugikan diringa sendiri. 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “ Betul (Engkau Tuhan kami)……”(Al-araf: 172)

Allah SWT berfirman kepada seluruh arwah zuriat Adam AS sebelum diturunkannya ke bumi sebagai manusia yang utuh bahwa mereka bersaksi dengan diri mereka sendiri Allah adalah Tuhan mereka, dengan demikiaan terjadilah ikatan perjanjian awal antara insan dengan Tuhannya.
Perjanjian tersebut adalah bukti setiap manusia yang Allah ciptakan telah melihat kebenaran dan mengamini bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Siapapun yang mengingkari perjanjian yang telah diikrarkan saat kesaksian tersebut, berarti mereka telah berbuat zalim kepada diri mereka senidir dan akan diberikan hukuman.  Kata ‘zalim’ yang merujuk kepada diri sendiri digambarkan oleh kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang tehasut oleh bisikan iblis.

“Mereka berdua (Nabi Adam dan Siti Hawa) berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang yang rugi” (Al-A’raf: 26)”

Al-Quran sering mengkaitkan perilaku jahat, kafir, dan fasik sebagai tanda kezaliman pada diri sendiri. Maka dari itu orang yang baik ialah yang adil terhadap dirinya sendiri. Keadilan pada diri sendiri akan menghasilkan akhlak yang baik, dan akhlak yang benar haruslah mengikuti sumber yang benar yaitu sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Oleh karena itu, urgensi membina diri agar menjadi insan yang sempurna semata-mata demi kebaikan individu tersebut di Akhirat dan juga demi ketaatan pada Allah SWT.

Sumber kepercayaan, kesetiaan, kebenaran hanya ada pada Allah saja, bukan pada masyarakat apalagi  suatu negara. Karena masyarakat dan juga negara besifat dinamis, selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu sehigga keadilan yang disandarkan pada kedua aspek tersebut akan menimbulkan kekacauan, ketidak konsistenan, dan potret akhlak atau sesuatu yang dianggap baik akan terus berubah-ubah.  Sehingga haruslah keadilan disandarkan pada sesuaatu yang tetap dan tidak berubah-ubah iaitu ketentuan Tuhan.

Sebagaimana istilah Madinatu’l Fadilah bukan dimaksudkan untuk membentuk Warganegara yang sempurna, melainkan agar terciptanya individu-individu yang berakhlak sehingga terciptalah masyarakat yang adil dan sejahtera. Warganegara yang sempurna belum tentu menghasilkan manusia yang sempurna pula. Namun manusia yang sempurna mampu menciptakan Warganegara yang sempurna.



__________________
Reference:
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 37-41.



Dari banyak aspek   kehidupan, Qardhawi melihat bahwa banyak terjadi kesalah kaprahan di kalangan umat muslim dalam meletakan sekala p...




Dari banyak aspek  kehidupan, Qardhawi melihat bahwa banyak terjadi kesalah kaprahan di kalangan umat muslim dalam meletakan sekala prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana potret masyarakat kita saat ini, perkara yang berkaitan dengan seni hiburan, olahraga seperti gym untuk membentuk tubuh yang ideal dan perlombaan sepak bola lebih ramai dibicarakan dan dibahas oleh banyak orang ketimbang persoalan ilmu pengetahuan ilmiah dan pendidikan atau kesibukan memperdebatkan hal-hal yang bersifat khilafiyah dari pada yang pokok. Bukan berarti perkara yang telah disebutkan tadi tidak memiliki manfaat sama sekali jika dibicarakan, namun ada hal yang lebih penting yang perlu menjadi perhatian besar umat muslim saat ini. Pendidikan, kemiskinan, kelaparan, dan hal-hal lain yang harus segera deberantas.

Penyimpangan masyarakat muslim di dalam ranah fiqih prioritas menurut beliau terjadi dikarenakan ketiadaan ilmu dan tuntunan fiqih yang benar, sehingga umat muslim hilang arah. Wajar saja kita menemuka orang-orang yang berelebihan dalam melakukan ritual agama seperti menunaikan ibadah haji lebih dari pada semestinya dengan alasan lebih khusu, tetapi sayangnya mereka malah luput memperjuangkan keadilan umat muslim di Palestina dengan hartanya, atau shodakoh untuk memperjuangkan tersebarnya pemikiran islam di kalangan remaja. Padahal dalam surat At-Taubah ayat 19-21 menyebutkan bahwa hal yang berkaitan dengan perjuangan lebih baik di sisi Allah dari 
pada ibadah haji.

“Apakah (orang-orang) yang memberi minum untuk orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum muslim yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka adalah tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surge, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal”

Perjuangan melawan sekulerisasi Barat, kemusyirakan, dan kekufuran sangatlah urgent dan penting. Sedangkan ibadah haji kewajibannya hanya satu kali, pergi berhaji berkali-kali adalah pemborosan dan tidak lebih prioritas dari pada membantu jihad.

Poin pentingnya adalah, kewajiban yang mendesak harus diprioritaskan lebih dari pada kewajiban yang bisa ditunda.

Dr. Yusuf Qordhowi sangat memperhatikan bahwa di kalangan umat muslim saat ini banyak kekeliruan dalam meletakan sekala prioirtas mereka diantaranya;

1. Tidak memperhatikan kepentingan fardhu kifayah yang berkaitan dengan umat secara luas. Contohnya membuat lembaga kajian ilmiah islam untuk menghalau pengaruh sekuler Barat, industri halal, melawan pemerintah yang dzhoilim, dll.

2. Mengabaikan sebagian fardhu ain atau kurang maksimal dalam mengimplemetasikannya. Seperti meulupakan amal maruf nahi mungkar sebelum melakukan ibadah sholat dan zakat. Bahkan dampak dari pengabaikan sebagian fardhu ain ini menyebabkan murka Allah atas Bani Israil yang disebut dalam surat al-Ma’dah ayat 78-79.

3. Ketimpangan perhatian pada suatu rukun islam yang berlebihan dari pada rukun yang lain. Ada sebagian orang yang memfokuskan ibadahnya hanya pada puasa namun melalaikan zakat, sholat, syahadat, dan haji.

4. Mendahulukan yang Sunnah atas perkara wajib.

5. Mendahulukan ibadah individu dari pada amal jamai.

6. Sibuk dengan perkara yang furu’ (bercabang) namun lupa dengan hal yang pokok.

7. Fokus pada perkara yang syubhat dan makruh ketimbang yang haram atau menghidupkan amal wajib yang telah hilang.

Fenomena-fenomena yang telah dijelaskan mengakibatkan umat muslim menganggap sesuatu yang besar menjadi kecil, membesar-besarkan yang kecil, namun mendahulukan yang yang remeh, mengabaikan yang fadhu, mementingkan yang Sunnah, mendahulukan urusan yang tidak genting, melalaikan urusan mendesak, berbusa-busa membahas perkara khilafiyah, namun lalai melakukan amal yang sudah jelas hukumnya. Oleh karena itu, Fiqih prioritas betul-betul diperlukan oleh umat muslim saat ini agar tidak terjadi kekeliruan yang berkepanjangan dalam beramal.

Media sosial terbukti mendekatkan yang jauh. Ketidak terbatasan jarak dan waktu memudahkan kita untuk berinteraksi di dalamnya. Cara s...



Media sosial terbukti mendekatkan yang jauh. Ketidak terbatasan jarak dan waktu memudahkan kita untuk berinteraksi di dalamnya. Cara seseorang berinteraksi dan bersosialisasi semakin variatif sehingga menuntut media sosial untuk terus memenuhi kebutuhanya.


Berseluncur ke dalam media sosial memang mengasyikan. Berjam-jam menatap layar gawai terkadang terasa sangat singkat. Namun, apakah penggunaannya dengan waktu yang lama sehat bagi manusia? Pasalnya, banyak studi mengasosiasikan penggunaaan media sosial berlebihan mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Semakin lama seseorang menghabiskan waktunya dengan  media sosial, menurut studi University of Pittsburgh School of Medicine, semakin rentan ia terkena gangguan tidur dan depresi. Mengutip tulisan Gita dalam laman National Geography, mengecek lini masa Twitter sebelum tidur mempengaruhi gangguan tidur. Sejumlah remaja, menurut sebuah research, telah mengidap Facebook depression –depresi disebabkan oleh penggunaan Fecbook yang berlebihan.

Penggunaan media sosial yang berlebihan, lanjut research tersebut, memang menjadi faktor utama remaja terkena depresi.
FOMO, body image, dan gangguan mental lainnya menjadi semakin trend akhir-akhir ini. Para psikolog, peneliti, dan sebagian aktivis ramai menyuarakan bahaya media sosial jika terlampau berlebihan dalam menggunakannya.

FOMO (Fear of Missing Out)

Menurut kamus Oxford Fear of Missing Out adalah perasaan gelisah yang berlebih jika tertinggal sesuatu yang sedang heppening, seringnya dirangsang oleh feed di media sosial. Istilah psikologi ini semakin trend seiring membeludaknya penggunaan media sosial dari masa ke masa.
Salah satu studi yang dilakukan oleh JWT Intelligence Comunication yang dikutip dari salah satu jurnal, membuktikan bahwa 70% orang dewasa mengalami FOMO. Kata Wortham dalam tulisannya di New Your Times, saat seseorang masuk ke dalam media sosial perasaan FOMO berkembang ke eskalasi yang lebih parah.

Kerap sekali kita temukan orang-orang memposting hal-hal menarik dalam hidupnya. Puluhan bahkan ratusan feed muncul di beranda media sosial. Terlebih bagi yang memiliki lebih dari satu platform, pasti feed yang ia lihat semakin banyak juga.Contohnya seperti photo kawan-kawan yang sedang berlibur ke luar negri, makan hidangan yang lezat nan mahal, kuliah di luar negri, dan berbagai segi keindahan hidup yang mereka miliki. Seolah mereka ingin mengungkapkan, kata Raditya Dika, My life is better the yours.

Dalam tulisan Kompas.com sebuah survey telah membuktikan bahwa sering melihat kerabat atau orang-orang berpergian dan bersenang-senang, mampu membuat remaja merasa FOMO seolah  mereka sedang benar-benar merasakan kenikmatan hidup.

Implikasinya kita cenderung mengkomparasi kehidupan kita dengan orang lain sehingga merasa insecure terhadap  kehidupan kita sendiri, Kata Bailey dalam ceramahnya di TED Talk.. Padahal, sesuatu yang ditampilkan tak selalu sama sebagaimana adanya.

BODY IMAGE

Dalam buku berjudul Body Image yang ditulis Sarah Grogan definisi body image adalah persepsi, pikiran perasaan tentang gambaran tubuhnya. Fenomena ini kerap kali kita temui di lingkungan kita. Saat seseorang mempersepsikan tubuh ideal lalu membandingkan dirinya dengan gambaran tersebut akan memicu ketidak puasan pada tubuhnya. Contohnya saja keluhan wanita masa kini. “Ah, pipiku tembeman!” atau “Aku terlihat gemukan lagi nih”. Padahal jika dilihat seksama, masih jauh dari kata gemuk atau obesitas.

Sejumlah research telah membuktikan bahwa gejala body image didominasi oleh kaum hawa, sedangkaan kaum adam cenderung lebih sedikit. Hal ini diakibatkan oleh gambaran tubuh ideal yang diekspos oleh media sosial. Wanita berpikir bahwa memiliki tubuh kurus, ramping, dan  payu dara yang besar akan memberikan kepuasan hidup. Sementara gambaran tubuh ideal laki-laki ialah tubuh six-pack.

Aktris berkaki panjang, tubuh sexi, dan payudara yang besar juga aktor berbusana setengah telanjang dengan badan atletis membanjiri beranda media sosial kita dewasa ini. Sehingga, imajinasi kita tentang kecantikan telah terbatasi oleh gambaran di media sosial.

DEPRESI, STRESS, KEGELISAHAN, DAN INSECURITY

Baily Parnell salah satu wanita yang paling berpengaruh di Kanada ini menyampaikan ceramahnya dalam TED Talk tentang pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental. Ia juga menyebutkan menurut Canadian Association of Mental Health pelajar tingkat 7-12 yang menggunakan media sosial lebih dari 2 jam per hari riskan terkena depresi, gelisah, dan pikiran untuk bunuh diri. Penyebab lainnya adalah sikap seseorang yang kerap kali membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

“We struggle with insecurity because we compare our behind the scenes with everyone else’s highlight reel”. Kata Parnell mengutip kata-kataSteven Furtick seorang penulis ternama.  

Masih mengutip Parnell, penyakit mental yang sering diderita oleh mahasiswa ialah: depresi, kegelishan, dan stress. Sedangkan stress yang ditimbulkan oleh media sosial disebabkan oleh FOMO, Highlight reel, social currency, dan online harassment.

Media sosial, disamping efek positif yang ia berikan, menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental seseorang. Penggunaanya dengan waktu yang  lama mampu merusak kesehatan mental manusia.

 



“ My speciality is being right when other people are wrong .” –George Bernrd Shaw Kita selalu salah dengan menjadi benar. Akal...




“My speciality is being right when other people are wrong.” –George Bernrd Shaw

Kita selalu salah dengan menjadi benar. Akal manusia itu brilian sekaligus menyedihkan –kita terus menerus membuat penemuan yang canggih, pun juga cenderung salah (dan dungu tentang fakta).

Kalian mungkin berpikir bahwa kalian mengetahui banyak hal lebih dari yang sebenarnya kalian ketahui –seperti saya dan orang lain juga. Kita sering menganggap bahwa diri kita mengetahui bagaimana suatu hal bekerja, namun sebenarnaya tidak betul-betul memahami hal tersebut. Kita seakan percaya telah membuat keputusan yang logis, namun fakta tidak dapat mengubah pikiran kita. Bahkan, ketika kita sadar diri kita salah, kita terus menyangkal hal tersebut. Memenangkan sebuah argumentasi lebih berharga dari pada belajar hal yang baru –karena kita senang menjadi benar.

Bagaimana jika menerima bahwa diri kita selalu salah? Dan berhenti berpura-pura tahu segalanya. Mindset ini mampu menghilangkan perasaan tidak ingin kalah dalam pertarungan (Infallibility Battles). Dengarkanlah sebelum kamu berpikir bahwa aku salah!

Mengapa selalu benar itu salah?

“Wrong does not cease to be wrong because the majority share in it”
-Leo Tolstoy

Fakta tidak akan meruba pikiran kita.

Sejak Dahulu berbagai macam eksperimen telah membuktikan, sekali kita membentuk sebuah opini, hampir tidak mungkin kita mengubahnya –bahkan ketika semua orang menyampaikan data yang benar.

Penelitian di Stanford telah memilih kelompok pelajar –setengahnya mendukung hukuman fisik untuk diimplementasikan; setengahnya lagi tidak sepakat. Keduanya merepresentasikan hal yang berbeda. Satu sisi menyiapkan data untuk mendukung argumentasi bahwa hukuman manti perlu dilaksanakan. Di sisi lain memaparkan fakta-fakta untuk mematahkan argumentasi tersebut.

Pelajar yang setuju bahwa hukuman pisik perlu diterapkan meyakini studi yang mereka temukan kredibel sedangkan yang lain tidak. Pun pelajar yang tidak setuju, mereka tetap kukuh dengan argumentasnya. Di akhir eksperimen, bukan hanya tidak ada pelajar yang merubah pemikiran mereka, namun kedua tim tersebut tidak mengubah sedikitpun argumentasi mereka. Otak memanipulasi persepsi kita sehingga kebal terhadap fakta.

‘Confrimation Bias’ adalah kecenderungan mengambil informasi untuk mendukung suatu kepercayaan yang dianggap oleh diri kita benar dan menolak yang lain.

Sebagaimana yang dikatakan pesulap Penn Jilliete, “If there’s something you really want to believe that’s what you question the most”.

Ada banyak jenis kesalahan dalam berpikir. Kita cenderung untuk memikirkan bahwa kita lebih pintar dari yang sebenarnya dan meremehkan seagala logika yang tidak sesuai dengan diri kita.

“Eror Blindness” istilah yang diciptakan oleh definisi pribadi yang salah (Kathryn Schulz). Dia percaya bahwa “kita tidak memiliki sinyal internal untuk mengetahui bahwa kita salah dalam suatu hal sampai pada waktu yang sangat telat”.

Sebagaimana yang telah ia jelaskan dalam acara TED Talk, pola pikir khayalan seperti ini berangkat dari tiga fase yang berbeda.

Pertama, kita salah namun belum menyadarinya. Kita terlampau percaya diri karena menganggap kebenaran berada di pihak kita. Sehingga kita perlu memeriksa fakta dua kali. Kedua, kita mengakui kesalahan kita –baik dengan cara inropeksi atau karena menerima data yang lebih valid. Kita rentan merasa dibawah kepungan. Ketiga, kita berusaha bertahan karena marasa sedang diserang.

Kita lebih memilih untuk tetap pada pendirian meskipun, dalam batin yang paling dalam, kita mengetahui bahwa kita salah.

Dalam buku, The Knowladge Illusion, ilmuan kognitif Seteven Sloman dan Philip Fernbach membantah bhawa kita bertahan dan berkembang meskipun kita memiliki kekurangan mental. Kunci  kecerdasan kita terdapat dalam pengetahuan orang lain, bukan pada diri kita.

Penulis mengutip sebuah studi Yale yang mana mahasiswa S1 harus menilai pemahaman mereka terhadap produk sehari-hari seperti toilet, ritsleting, dll. Setiap orang memberikan penilaian yang jujur terhadap diri mereka masing-masing. Selanjutnya mereka diminta menggambarkan, step-by-step, bagaimana hal tersebut terjadi. Ketika diminta kembali untuk menilai diri mereka lagi, penilaian tersebut turun. Pengalaman terungkap pada mahasiswa yang acuh. Ritsleting dan toilet, ternyata lebih rumit dari yang kita dibayangkan.

Hal yang senada terjadi pada sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Rebecca Laswson, seorang psikolog di University of Liverpool. Dia meneliti sebuah grup pelajar yang kehilangan beberapa bagian dari pada kerangka dalam sebuah gambar speda. Ketika ditanya kemanakah seharusnya rantai atau pedal diletakan, para pelajar merasa percaya diri –semuanya merasa menjawab pertanyaan dengan benar.Padahal, Rata-rata pelajar tidak memahami bagaimana sebenarnya speda bekerja.

Sloman dan Fernbach menyebut hal ini dengan “illusion of explanatory depth” –kita semua percaya bahwa diri kita memahami sesuatu lebih dari pada realitasnya.

Masalahnya karena kita acuh, melainkan kita terbiasa menyembunyikan fakta. Membakar jembatan dan menciptakan gesekan dengan orang lain hanya untuk membela diri. Kita membiarkan ego mengambil alih kehidupan yang pada akhirnya sikap merasa benar memicu pertarungan yang tidak berarti.

Mengapa Kita Mencintai Kemenangan, Dari Pada Belajar Sesuatu?

Kamampuan kita dalam beralasan lebih didominasi oleh keinginan untuk menang dari pada berpikir lurus. Ilmuan menyebut hal ini dengan fenomena “motivated reasoning”. Dalam alam bawah sadar kita –baik hasrat dan ketakutan membentuk cara kita saat menginterpretasikan suatu hal dan informasi.

Eckhart Tolle mengatakan: “Needing to be right is a form of violance”

Dalam acara TEDx talk, Julia Galef, seorang co-founder the Center for Applied Rationality, menjelaskan mengapa informasi dan pikiran seakan-akan menjadi sekutu untuk menang. Di sisi lain, kita menganggap gagasan dan konsep yang bersebrangan dengan kita sebagai musuh.

Galef menamakannya dengan “soldier mindset”

Hal tersebut terjadi dalam pekerjaaan, olahraga, atau politik. Ketika orang lain menghakimi pihak kita dengan tidak adil, kita akan marah. Namun, ketika perlakuan tersebut terjadi di pihak sebaliknya, kita merasa kedilan telah ditegakan. Contohnya, jika seorang wasit memberi kartu penalti kepada tim kita, kita berusaha mencari kesalahanya. Akan berbeda jika hal tersebut terjadi kepada tim lawan, kita bergembira dengan hal itu.

Sebagaimana dikatakan oleh Julia Galef “Our judgment is strongly influenced, unconsciously, by which side we want to win. And this is ubiquitous. This shapes how we think about our health, our relationship, how we decide how to vote, what we consider fair or ethical”

Mindset untuk melindungi diri telah mengakar dalam pikiran seorang tentara. Tekanan untuk merasa benar mengangkat adrenalin kita sehingga mengalami fight or flight respon.

Naluri seorang pramuka menuntut untuk lebih memahami dari pada mempertahankan apa yang ia percayai. Ia terbiasa pergi keluar, memetakan medan jalan, dan mengidentifikasikan halangan. Memastikan apa yang benar-benar terjadi.

Pola pikir yang kamu pilih mempengaruhi analisa, pertimbangan, dan dalam membuat keputusan.

Pola pikir seorang tentara didasari oleh agresi dan tribalisme. Sedangkan seorang pramuka cenderung penasaran, tertarik dengan fakta yang bersebrangan, dan tidak merasa cemas untuk mengubah pikiran.

Tidak ada seorang pun yang akan menang dalam sebuah infallibility battle –keadaan tidak ada satupun pihak yang merasa salah. Itulah mengapa sebuah perbedaan pola pikir dapat membantu kamu untuk melawan dan menururnkan eskalasi kalah dalam pertarungan argumen.

Bagaimana Jika Aku Salah Dalam Hal Ini?

“Confidence comes not from always being right, but from not fearing to be wrong”.
– Peter Mclntry

Aku terbiasa melakukan aturan 50% - 50% ketika mengahadapi konflik, asumsikan bahwa 50% kita salah dan 50%nya lagi kita benar. Aku terbiasa mengajarkan aturan ini ketika berada dalam sebuah tim workshop. Hal tersebut mujarab untuk mengubah persepi seseorang untuk menyalahkan orang lain. Setiap orang fokus untuk menjadi adil.

Hari ini, aku menyarankan kalian untuk melakukan hal yang lebih ekstrim. Saat kalian menghadapi perdebatan, sebelum mulai, anggap dirimu 100% pihak yang salah. Lihatlah apa yang akan terjadi.

Pola pikir ini bukan hanya menguji ketahanan kalian. Lebih dari itu kalian sedang melatih pikiran kalian untuk mengatasi segala prasangka yang telah kita diskusikan diatas.

Ketika kalian berjuang, tanyakan dirimu, “Bagaimana jika aku yang salah dalam hal ini?”Terdengar berat, bukan? Namun kenyataanya, kalian salah dalam banyak hal sebagaimana saya dan orang lain. Kita semua mengalami cognitive delusion.

 NB :

Artikel ini diterjemahkan dari website Psychology Today, ditulis oleh Gustavo Razzatti, dengan judul What If You’re the One Who’s Wrong?