Penelitian telah menemukan penemuan baru. Bakteri lebih suka bersatu bekerja sama untuk melawan ancaman dari luar, seperti antibioti...





Penelitian telah menemukan penemuan baru. Bakteri lebih suka bersatu bekerja sama untuk melawan ancaman dari luar, seperti antibiotik, dari pada bertarung satu sama lain. Penemuan ini adalah langkah besar untuk memahami interaksi bakteri yang kompleks, pengembangaan model perawatan penyakit manusia terbaru, dan juga teknologi penghijauan.

Bertahun-tahun lamanya para saintis mencoba meneliti bagaimana tingkah laku bakteri ketika bersama dalam area yang terbatas. Setelah dilakukan penelitian dalam durasi waktu yang cukup lama akhirnya terungkap bahwa ternyata bakteri bekerja sama untuk bertahan hidup. Menariknya hal ini sangat kontradiktif dengan teori evolosi Darwin, dimana teorinya memusatkan pada  kompetisi sebagai jalan untuk bertahan hidup.

“In the classic Darwinian mindset, competition is the name of the game. The best suited survive and outcompete those less well suited. However, when it comes to microorganisms like bacteria, our finding reveal the most cooperative ones survive,” terang Soren Johannes Sorense, profesor mikrobiologi dari University of Copenhagen.

Saintis mengisolasi bakteri ke dalam jagung kecil dimana mereka dipaksa untuk bertarung satu sama lain demi memperebutkan ruang. Dengan cara itu para peneliti  mudah untuk menyelidiki sejauh mana bakter bekerja sama atau bertahan hidup. Mereka memilih strain bakteri berdasarkan kemampuan bakteri untuk tumbuh bersama. Para peneliti mengukur berdasarkan kadar biofilm yang mereka keluarkan. Biofilm adalah lapisan lendir yang melindungi bakteri dari ancaman eksternal seperti antibiotik dan predator. Ketika bakteri sehat, mereka memproduksi lebih banyak biofilm dan tumbuh semakin kuat dan juga semakin elastis.

Para peneliti melakukan penelitian tersebut berulang-ulang, dan konkulisnya tetap sama. Bakteri yang menghasilkan lebih banyak biofilm (bakteri yang kuat) membagi ruang untuk bakteri yang lemah sehingga mereka mampu berkembang juga. Para peneliti pun melihat bahwa bakteri membagi tugas-tugas dengan mematikan mekanisme yang tidak perlu dan membaginya dengan bakteri yang berada dekat dengannya.

“Our new study demonstrates that bacteria organize themselves in a structured way, distribute work, and even help each other. This means thaat we can find out which bacteria cooperate, and possibly, which ones depend and each another, by looking at who sits next to who,” jelas Sorensen.

Peneliti juga mencoba mencari tahu bagaimana sifat-sifat bekteri saat mereka sendiri mau pun ketika mereka bersama-sama. Manusia sering berdiskusi tentang strategi kerja, dan bagaimana seseorang menginspirasi yang lainnya. Bakteri telah lebih dulu melakukannya ketika mereka bertahan hidup dalam komunitas yang kecil.

Sorensen juga mejelaskan bahwa bakteri memberikan kita pemahaman pentingnya sinergi dalam berkelompok. Bakteri menginduksi atribut tetangga mereka yang seharusnya tidak aktif. Dengan cara tersebut, kelompok bakter dapat memunculkan sifat-sifat yang mustahil terlihat saat mereka sendirian. Namun, saat bersama-sama dengan bakteri lainnya sifat tersebut bisa tiba-tiba muncul.

Arikel ini adalah terjemahan dari salah satu tulisan di laman website Futurity “Sorry, Darwin, but bacteria don’t compete to survive.”



Many people are so fussy when they see someone who is not good as they expectation  or faith. It leads they nature to comment, advice, or ...

Many people are so fussy when they see someone who is not good as they expectation  or faith. It leads they nature to comment, advice, or suggest something better as they believe. Unfortunately, the ways to convey good intention are sometimes matter.
Advising in bad manner, commenting with hate speech, or suggesting by interfering people for instance.

Giving goodness is supposed to be reflected by good way as well. What do you think if your friend give you money by throwing them in your face? Insisting to help your friend while he no need any bear a hand? The first is irritating while the second is annoying.

It is great  having good intention, however we must to relearn how to be more heedful to put proper means.

Tepat hari ini umur gua 21 tahun. Gak ada yang spesial dengan ulang tahun sebetulnya. Hanya pengingat bahwa di hari ini gua pernah lahir k...

Tepat hari ini umur gua 21 tahun. Gak ada yang spesial dengan ulang tahun sebetulnya. Hanya pengingat bahwa di hari ini gua pernah lahir ke bumi. Polos. Gak bawa apapun dan masih suci. Sekarang sudah menginjak tahun ke 21 aja. Betul-betul gak kerasa. Sanak keluarga semuanya mengucapkan selamat, gak ketinggalan teman dan guru juga. Tapi, Ucapan selamat ulang tahun seakan membawa pertanyaan besar. Apa yang sudah gua lakukan untuk diri gua dan orang lain?.

Satu pertanyaan membuat gua harus mengulang lembaran kehidupan gua dua puluh tahun lalu. Gua temui banyak kenangan pahit, namun lebih banyak lagi kenangan manis yang wajib gua syukuri. Walaupun, memang menurut pandangan gua sebagai insan belum banyak hal besar yang gua lakuin untuk hidup gua khusunya dan umumnya untuk orang lain.

Sampe sekarang to do list masih tersimpan sembarang di folder gawai. Puluhan ambisi masih mengantri agar terealisasi. Sedangkan gua, masih perlu banyak belajar mengenal diri.

Tahun lalu tepatnya saat gua baru saja menginjak umur 20 tahun. Pikiran gua bergejolak. Kenangan masa lalu dan kenyataan masa kini berakumulasi. Mungkin karena di usia tersebut masa transisi menjadi individu dewasa. Pikiran polos sweet seven teen berevolusi menjadi manusia dewasa yang tanggung. Gua banyak mentadaburi arti hidup dan bercengkrama lebih lama dengan diri gua sendiri. Dalam kata lain, gua ingin mengenal hakikat diri gua.

19 tahun pencarian jati diri, ternyata gua masih kurang gereger berkenal sama diri sendiri. Terlalu Impulsif yang akhirnya menggiring gua kepada beberapa cara pandang dan prilaku yang salah. Gua habiskan banyak waktu merenung dan bertanya terhadap diri sendiri seperti:

Siapa gua?
Apa yang gua bisa?
Kenapa Tuhan ciptain gua?
Kenapa harus di sini?

Dan segala pertanyaan yang ada dikepala meronta. Meminta untuk segera dijawab.

Pada perjalanannya. Jawaban gak langsung gua dapetin. Banyak variasi cara jawaban itu akhirnya sampai. Dari masa lalu yang gua putar ulang, masalah yang sedang dihadapi, curhatan sahabat, diskusi dengan teman sejawat dan kating, saran orang tua, ceramah dari dosen atau youtube. Semuanya berkontribusi memahamkan diri gua tentang hakikat siapa gua. Bahkan, sampai sekarang pun gua masih tetap menggali informasi yang terkubur di dasar diri gua. Semakin gua tau, semakin gua mengerti untuk bersikap. Gak salah memang ungkapan terkenal bahwa siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Saat gua berada pada titik sadar atas kenyataan diri gua, saat itu pula gua sadar bahwa Tuhan adil, Tuhan maha kuat, Tuhan maha penyayang, dan segala kebaikkanNya.

Satu dari sekian banyak hal yang gua petik dari pencarian informasi diri gua iyalah ternyata gua bukan orang yang cukup optimistis. Saat itu, gua mudah menyerah ketika dihadapkan pada situasi-situasi yang sulit. Cenderung menyalahkan keadaan dari pada mengevaluasi kesalahan. Saat gua sadar hal itu ada dalam diri gua. Gua akhirnya tau cara menyikapinya. Walaupun tidak mudah juga merubahnya. Setidaknya sekarang jauh lebih baik dari pada saat gua gak tau hak itu.

Semakin gua memahami diri, semakin gua tahu cara bersikap. Analogi sederhanannya ketika bertemu orang baru, normlanya kita bakal kenalan. Menanyakan nama, domisili, pekerjaan, status, dan informasi-informasi dasar. Informasi yang kita dapat cenderung dangkal. Bahkan biasanya misskomunikasi dan misoersepsi terjadi dalam tahap awal pengenalan karena banyak hal yang berbeda yang kita tidak tahu sebelumnya.

Berbeda dengan saat kita mencoba untuk lebih mendekat dan memahami orang lain. Informasinya akan lebih dalam dan komprehensif. Menghabiskan waktu yang  lama dengan orang tersebut dan menggali informasi dengan memahami karakter, sifat, juga hal hal yang sering ia lakukan. Sehingga, barulah kita mengerti dia ini A dan menilai bahwa dia itu B.

Habiskan waktu untuk berkenalan dengan diri lo lebih sering. Jangan puas dengan apa yang lo tau sekarang. Makin dalam pemaham seseorang, makin dia sadar kalo dia bodoh. Makin lo kenal diri lo, makin lo sadar diri lo bukan siapa-siapa.




Wacana pemindahan ibu kota Indonesia menjadi perbincangan hangat baik di kalangan masyarakat Jakarta maupun masyarakat Indonesia secar...



Wacana pemindahan ibu kota Indonesia menjadi perbincangan hangat baik di kalangan masyarakat Jakarta maupun masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Pasalnya ibu kota yang baru akan berlokasi di Kalimantan Timur atau Kalimantan Tengah. Sampai sekarang pemerintahan masih melakukan kajian mendalam untuk menentukan lokasi spesifik. Adapun latar belakang tercetusnya rencana ini karena Presiden Joko Widodo ingin menghilangkan stigma Jawa sentris dan merubahnya menjadi Indonesia sentris. Melihat selama ini Jawa menjadi sentral kehidupan Indonesia, hal ini terindikasi dari 245 proyek strategis yang dicanangkan pemerintah 44%nya berada di pulau Jawa. Belum lagi sumbangsi PDB sebesar 58% berasal dari Jawa, 20% disumbangkan oleh Jakarta. Selain itu,  permasalahan bencana alam, kepadatan penduduk, pencemaran alam, dan kesehatan masyarakat menjadi persoalan utama yang menjadi perhatian President Jokowi pula saat diwawancarai oleh reporter CNN.

Dalam cuitannya di twitter, President Jokowi menulis “Kenapa ibu kota harus pindah? Jakarta ini menyangga beban yang sangat berat sebagai pusat pemerintahan, bisnis, keuangan, perdagangan, dan jasa. Ini bukan salah Pemprov DKI Jakarta. Tapi kita tidak terus menerus membiarkan beban Jakarta yang makin berat”. Senada dengan cuitan Pak President, menurut politis PSI, Tsamara Amani di acara ILC, ia menggambarkan keadaan ibu kota Jakarta sedang dalam kondisi sakit. Kepadatan penduduk dan wilayah yang rawan terkena gempa menjadi indikator kekronisan penyakit Jakarta.

Sekilas alasan pemindahan ibu kota alih-alih menghilangkan kesan Jawa sentris sangat menarik melihat Indonesia bukan hanya terdiri dari pulai Jawa namun terdiri dari banyak kepulauan, begitupun permasalahan yang telah disebutkan diatas. Namun, jika dilihat dari urgensinya pemindahan ibu kota seharusnya tidak perlu dilakukan dalam periode ini karena negara kita pun sedang mengalami ‘penyakit ekonomi’.

Perlu diakui pertumbuhan perekonomian Indonesia sedang tidak berada dalam zona menguntungkan. Pasalnya pertumbuhan ekonomi kita tidak keluar dari 5%.  Menurut Badan Pusat Statistik pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam kuartal II-2019 hanya hanya mencapai 5,05% padahal jika dibandingkan saat kuartal II tahun sebelumnya mencapai 5,27%. Ditambah lagi defisit anggaran dana disebabkan oleh stagnansi pendapatan negara. Menurut mentri keuangan Sri Mulyani, pada periode Juni 2019 indonesia mengalami defisit anggaran dana sebesar Rp 135,8 Triliun pendapatan negara yang tidak kunjung meningkat menjadi persoalan utama hal tersebut terjadi.

Dalam riset yang dilakukan oleh Institute for Development of Economic and Finance (Indef) pemindahan ibu kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur atau Kalimantan Tengah tidak menghasilkan perubahan apapun pada PDB rill nasional. Seandainya ibu kota pindah ke Kalimantan Tengah konsumsi rumah tangga akan naik 2,37%, tetapi dalam sekala nasional angkanya turun drastis menjadi 0,02%. Neraca perdagangan diperkirakan akan turun, jumlah expor dan impor secara nasional hanya mencapai 0.01%. Dampak yang lebih parah akan dialami oleh Kalimantan Timur jika pemindahnnya berlokasi di sana ditambaah lagi PDB rill sekala nasional tidak memberikan dampak apapun atau dengan kata lain hanya 0,0%.

Rencana anggaran dana yang disiapkan pemerintah untuk merealisasikan kegiatan ini pun terbilang sangat besar yaitu Rp 466 Triliun. Dengan kondisi perekonomian yang sedang ‘sakit’ pemindahan ibu kota Jakarta terkesan tidak bijak. Belum lagi, anggaran dana program ini tidak termasuk di dalam RAPBN negara. Ide pemindahan ibu kota dengan dalih Indonesia sentris dan mengurangi beban Jakarta memang bagus, namun waktu untuk mewujudkannya tidak tepat. Apakah pemindahan ibu kota lebih mendesak dari pada menggenjot pertumbuhan ekonomi Indonesia? Malahan, hal tersebut tekesan menambah ‘penyakit’ yang sedang diderita negara ini.  

 ________________
Referensi :

Hahijari, Otis. 2019. Perlukah Ibu Kota Pindah. Indonesia Lawyer Club.

Indonesia, CNBC. 2019. Ekonomi RI Cukup Berat, Bahkan Berat Sekali. https://www.cnbcindonesia.com/news/20190813184207-4-91813/ekonomi-ri-cukup-berat-bahkan-berat-sekali. (14 Agustus 2019).


Kompas.com. 2019. Defisit APBN Naik, Tembus Rp 135,8 Triliun pada Juni 2019. https://money.kompas.com/read/2019/07/16/183000926/defisit-apbn-naik-tembus-rp-135-8-triliun-pada-juni-2019. (16 Juli 2019)

Lidyana, Vadiha. 2019. Meramal Dampak Ibu Kota Pindah Ke Pertumbuhan Ekonomi. https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4678531/meramal-dampak-ibu-kota-pindah-ke-pertumbuhan-ekonomi. ( 23 Agustus 2019).

Silaban, Martha Wartha. 2019. Riset Indef: Ada Dampak Negatif Pemindahan Ibu Kota Ke Kalimantan. https://bisnis.tempo.co/read/1239682/riset-indef-ada-dampak-negatif-pemindahan-ibu-kota-ke-kalimantan. ( 24 Agustus 2019).

Keadilan menurut Barat menyangkut persoalan dua orang atau lebih, inheren kepada negara dan masyarakat. Permasalahan yang terjadi pada ...



Keadilan menurut Barat menyangkut persoalan dua orang atau lebih, inheren kepada negara dan masyarakat. Permasalahan yang terjadi pada setiap individu selalu dikaitkan pada tanggung jawabnya kepada masyarakat dan negara. Gambaran keadilan yang dipahami oleh Barat tergambar dari pendapat Aristoteles, jika seseorang melakukan bunuh diri berarti ia telah  zalim bukan kepada dirinya melainkan zalim kepada masyarakat dan negara. Karena ia lari dari tanggung jawabnya  untuk berkhidmat kepada masyarakat dan negara.

Sedangkan islam melihat sebuah keadilan bermula dari diri sendiri iaitu pribadi insan sebagai individu. Bagi seseorang yang melakukan kezaliman artinya ia merugikan diringa sendiri. 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “ Betul (Engkau Tuhan kami)……”(Al-araf: 172)

Allah SWT berfirman kepada seluruh arwah zuriat Adam AS sebelum diturunkannya ke bumi sebagai manusia yang utuh bahwa mereka bersaksi dengan diri mereka sendiri Allah adalah Tuhan mereka, dengan demikiaan terjadilah ikatan perjanjian awal antara insan dengan Tuhannya.
Perjanjian tersebut adalah bukti setiap manusia yang Allah ciptakan telah melihat kebenaran dan mengamini bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Siapapun yang mengingkari perjanjian yang telah diikrarkan saat kesaksian tersebut, berarti mereka telah berbuat zalim kepada diri mereka senidir dan akan diberikan hukuman.  Kata ‘zalim’ yang merujuk kepada diri sendiri digambarkan oleh kisah Nabi Adam AS dan Siti Hawa yang tehasut oleh bisikan iblis.

“Mereka berdua (Nabi Adam dan Siti Hawa) berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang yang rugi” (Al-A’raf: 26)”

Al-Quran sering mengkaitkan perilaku jahat, kafir, dan fasik sebagai tanda kezaliman pada diri sendiri. Maka dari itu orang yang baik ialah yang adil terhadap dirinya sendiri. Keadilan pada diri sendiri akan menghasilkan akhlak yang baik, dan akhlak yang benar haruslah mengikuti sumber yang benar yaitu sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Oleh karena itu, urgensi membina diri agar menjadi insan yang sempurna semata-mata demi kebaikan individu tersebut di Akhirat dan juga demi ketaatan pada Allah SWT.

Sumber kepercayaan, kesetiaan, kebenaran hanya ada pada Allah saja, bukan pada masyarakat apalagi  suatu negara. Karena masyarakat dan juga negara besifat dinamis, selalu berubah-ubah seiring berjalannya waktu sehigga keadilan yang disandarkan pada kedua aspek tersebut akan menimbulkan kekacauan, ketidak konsistenan, dan potret akhlak atau sesuatu yang dianggap baik akan terus berubah-ubah.  Sehingga haruslah keadilan disandarkan pada sesuaatu yang tetap dan tidak berubah-ubah iaitu ketentuan Tuhan.

Sebagaimana istilah Madinatu’l Fadilah bukan dimaksudkan untuk membentuk Warganegara yang sempurna, melainkan agar terciptanya individu-individu yang berakhlak sehingga terciptalah masyarakat yang adil dan sejahtera. Warganegara yang sempurna belum tentu menghasilkan manusia yang sempurna pula. Namun manusia yang sempurna mampu menciptakan Warganegara yang sempurna.



__________________
Reference:
Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin, 37-41.



Dari banyak aspek   kehidupan, Qardhawi melihat bahwa banyak terjadi kesalah kaprahan di kalangan umat muslim dalam meletakan sekala p...




Dari banyak aspek  kehidupan, Qardhawi melihat bahwa banyak terjadi kesalah kaprahan di kalangan umat muslim dalam meletakan sekala prioritas dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana potret masyarakat kita saat ini, perkara yang berkaitan dengan seni hiburan, olahraga seperti gym untuk membentuk tubuh yang ideal dan perlombaan sepak bola lebih ramai dibicarakan dan dibahas oleh banyak orang ketimbang persoalan ilmu pengetahuan ilmiah dan pendidikan atau kesibukan memperdebatkan hal-hal yang bersifat khilafiyah dari pada yang pokok. Bukan berarti perkara yang telah disebutkan tadi tidak memiliki manfaat sama sekali jika dibicarakan, namun ada hal yang lebih penting yang perlu menjadi perhatian besar umat muslim saat ini. Pendidikan, kemiskinan, kelaparan, dan hal-hal lain yang harus segera deberantas.

Penyimpangan masyarakat muslim di dalam ranah fiqih prioritas menurut beliau terjadi dikarenakan ketiadaan ilmu dan tuntunan fiqih yang benar, sehingga umat muslim hilang arah. Wajar saja kita menemuka orang-orang yang berelebihan dalam melakukan ritual agama seperti menunaikan ibadah haji lebih dari pada semestinya dengan alasan lebih khusu, tetapi sayangnya mereka malah luput memperjuangkan keadilan umat muslim di Palestina dengan hartanya, atau shodakoh untuk memperjuangkan tersebarnya pemikiran islam di kalangan remaja. Padahal dalam surat At-Taubah ayat 19-21 menyebutkan bahwa hal yang berkaitan dengan perjuangan lebih baik di sisi Allah dari 
pada ibadah haji.

“Apakah (orang-orang) yang memberi minum untuk orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum muslim yang zhalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda, dan diri mereka adalah tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan rahmat dari padaNya, keridhaan dan surge, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal”

Perjuangan melawan sekulerisasi Barat, kemusyirakan, dan kekufuran sangatlah urgent dan penting. Sedangkan ibadah haji kewajibannya hanya satu kali, pergi berhaji berkali-kali adalah pemborosan dan tidak lebih prioritas dari pada membantu jihad.

Poin pentingnya adalah, kewajiban yang mendesak harus diprioritaskan lebih dari pada kewajiban yang bisa ditunda.

Dr. Yusuf Qordhowi sangat memperhatikan bahwa di kalangan umat muslim saat ini banyak kekeliruan dalam meletakan sekala prioirtas mereka diantaranya;

1. Tidak memperhatikan kepentingan fardhu kifayah yang berkaitan dengan umat secara luas. Contohnya membuat lembaga kajian ilmiah islam untuk menghalau pengaruh sekuler Barat, industri halal, melawan pemerintah yang dzhoilim, dll.

2. Mengabaikan sebagian fardhu ain atau kurang maksimal dalam mengimplemetasikannya. Seperti meulupakan amal maruf nahi mungkar sebelum melakukan ibadah sholat dan zakat. Bahkan dampak dari pengabaikan sebagian fardhu ain ini menyebabkan murka Allah atas Bani Israil yang disebut dalam surat al-Ma’dah ayat 78-79.

3. Ketimpangan perhatian pada suatu rukun islam yang berlebihan dari pada rukun yang lain. Ada sebagian orang yang memfokuskan ibadahnya hanya pada puasa namun melalaikan zakat, sholat, syahadat, dan haji.

4. Mendahulukan yang Sunnah atas perkara wajib.

5. Mendahulukan ibadah individu dari pada amal jamai.

6. Sibuk dengan perkara yang furu’ (bercabang) namun lupa dengan hal yang pokok.

7. Fokus pada perkara yang syubhat dan makruh ketimbang yang haram atau menghidupkan amal wajib yang telah hilang.

Fenomena-fenomena yang telah dijelaskan mengakibatkan umat muslim menganggap sesuatu yang besar menjadi kecil, membesar-besarkan yang kecil, namun mendahulukan yang yang remeh, mengabaikan yang fadhu, mementingkan yang Sunnah, mendahulukan urusan yang tidak genting, melalaikan urusan mendesak, berbusa-busa membahas perkara khilafiyah, namun lalai melakukan amal yang sudah jelas hukumnya. Oleh karena itu, Fiqih prioritas betul-betul diperlukan oleh umat muslim saat ini agar tidak terjadi kekeliruan yang berkepanjangan dalam beramal.

Media sosial terbukti mendekatkan yang jauh. Ketidak terbatasan jarak dan waktu memudahkan kita untuk berinteraksi di dalamnya. Cara s...



Media sosial terbukti mendekatkan yang jauh. Ketidak terbatasan jarak dan waktu memudahkan kita untuk berinteraksi di dalamnya. Cara seseorang berinteraksi dan bersosialisasi semakin variatif sehingga menuntut media sosial untuk terus memenuhi kebutuhanya.


Berseluncur ke dalam media sosial memang mengasyikan. Berjam-jam menatap layar gawai terkadang terasa sangat singkat. Namun, apakah penggunaannya dengan waktu yang lama sehat bagi manusia? Pasalnya, banyak studi mengasosiasikan penggunaaan media sosial berlebihan mempengaruhi kesehatan mental seseorang.

Semakin lama seseorang menghabiskan waktunya dengan  media sosial, menurut studi University of Pittsburgh School of Medicine, semakin rentan ia terkena gangguan tidur dan depresi. Mengutip tulisan Gita dalam laman National Geography, mengecek lini masa Twitter sebelum tidur mempengaruhi gangguan tidur. Sejumlah remaja, menurut sebuah research, telah mengidap Facebook depression –depresi disebabkan oleh penggunaan Fecbook yang berlebihan.

Penggunaan media sosial yang berlebihan, lanjut research tersebut, memang menjadi faktor utama remaja terkena depresi.
FOMO, body image, dan gangguan mental lainnya menjadi semakin trend akhir-akhir ini. Para psikolog, peneliti, dan sebagian aktivis ramai menyuarakan bahaya media sosial jika terlampau berlebihan dalam menggunakannya.

FOMO (Fear of Missing Out)

Menurut kamus Oxford Fear of Missing Out adalah perasaan gelisah yang berlebih jika tertinggal sesuatu yang sedang heppening, seringnya dirangsang oleh feed di media sosial. Istilah psikologi ini semakin trend seiring membeludaknya penggunaan media sosial dari masa ke masa.
Salah satu studi yang dilakukan oleh JWT Intelligence Comunication yang dikutip dari salah satu jurnal, membuktikan bahwa 70% orang dewasa mengalami FOMO. Kata Wortham dalam tulisannya di New Your Times, saat seseorang masuk ke dalam media sosial perasaan FOMO berkembang ke eskalasi yang lebih parah.

Kerap sekali kita temukan orang-orang memposting hal-hal menarik dalam hidupnya. Puluhan bahkan ratusan feed muncul di beranda media sosial. Terlebih bagi yang memiliki lebih dari satu platform, pasti feed yang ia lihat semakin banyak juga.Contohnya seperti photo kawan-kawan yang sedang berlibur ke luar negri, makan hidangan yang lezat nan mahal, kuliah di luar negri, dan berbagai segi keindahan hidup yang mereka miliki. Seolah mereka ingin mengungkapkan, kata Raditya Dika, My life is better the yours.

Dalam tulisan Kompas.com sebuah survey telah membuktikan bahwa sering melihat kerabat atau orang-orang berpergian dan bersenang-senang, mampu membuat remaja merasa FOMO seolah  mereka sedang benar-benar merasakan kenikmatan hidup.

Implikasinya kita cenderung mengkomparasi kehidupan kita dengan orang lain sehingga merasa insecure terhadap  kehidupan kita sendiri, Kata Bailey dalam ceramahnya di TED Talk.. Padahal, sesuatu yang ditampilkan tak selalu sama sebagaimana adanya.

BODY IMAGE

Dalam buku berjudul Body Image yang ditulis Sarah Grogan definisi body image adalah persepsi, pikiran perasaan tentang gambaran tubuhnya. Fenomena ini kerap kali kita temui di lingkungan kita. Saat seseorang mempersepsikan tubuh ideal lalu membandingkan dirinya dengan gambaran tersebut akan memicu ketidak puasan pada tubuhnya. Contohnya saja keluhan wanita masa kini. “Ah, pipiku tembeman!” atau “Aku terlihat gemukan lagi nih”. Padahal jika dilihat seksama, masih jauh dari kata gemuk atau obesitas.

Sejumlah research telah membuktikan bahwa gejala body image didominasi oleh kaum hawa, sedangkaan kaum adam cenderung lebih sedikit. Hal ini diakibatkan oleh gambaran tubuh ideal yang diekspos oleh media sosial. Wanita berpikir bahwa memiliki tubuh kurus, ramping, dan  payu dara yang besar akan memberikan kepuasan hidup. Sementara gambaran tubuh ideal laki-laki ialah tubuh six-pack.

Aktris berkaki panjang, tubuh sexi, dan payudara yang besar juga aktor berbusana setengah telanjang dengan badan atletis membanjiri beranda media sosial kita dewasa ini. Sehingga, imajinasi kita tentang kecantikan telah terbatasi oleh gambaran di media sosial.

DEPRESI, STRESS, KEGELISAHAN, DAN INSECURITY

Baily Parnell salah satu wanita yang paling berpengaruh di Kanada ini menyampaikan ceramahnya dalam TED Talk tentang pengaruh media sosial terhadap kesehatan mental. Ia juga menyebutkan menurut Canadian Association of Mental Health pelajar tingkat 7-12 yang menggunakan media sosial lebih dari 2 jam per hari riskan terkena depresi, gelisah, dan pikiran untuk bunuh diri. Penyebab lainnya adalah sikap seseorang yang kerap kali membandingkan kehidupannya dengan orang lain.

“We struggle with insecurity because we compare our behind the scenes with everyone else’s highlight reel”. Kata Parnell mengutip kata-kataSteven Furtick seorang penulis ternama.  

Masih mengutip Parnell, penyakit mental yang sering diderita oleh mahasiswa ialah: depresi, kegelishan, dan stress. Sedangkan stress yang ditimbulkan oleh media sosial disebabkan oleh FOMO, Highlight reel, social currency, dan online harassment.

Media sosial, disamping efek positif yang ia berikan, menimbulkan dampak negatif pada kesehatan mental seseorang. Penggunaanya dengan waktu yang  lama mampu merusak kesehatan mental manusia.